Episode 3

Di antara orion, rembulan, juga rel kereta

Dengan bau menyengat, kerasnya air kehidupan nyata

Serta setengah kosong, kaleng lem teronggok di jemari bias ‘kan dusta

Dunia kecil, selintas masa perjalanan semesta

Kebebasan dalam ketelanjangan

Tanpa aturan tanpa “kekangan”

Melaju lepas searah buritan

“Berbahagia” dalam sunyi ketiadaan

Empat jam sudah, sang pemburu mengangkasa di cakrawala semesta

Kedinginan ia, berhadapan dengan nuansa yang mencekam rasa

Dalam pandangnya pada purnama, ku tahu tersimpan rasa curiga

Namun ia hanya diam pula, tergugu menunggu takdir yang tiba

Tuhan dan kehidupan

Berjuta pertanyaan atas Ia punya keadilan

Yang berbahagia dalam sendunya pengharapan

Jiwa-jiwa rapuh, terjebak dalam hampa kebekuan

Dua jam saja, purnama malam akan tenggelam

Terjebak tunduk, ia di bawah horizon alam

Dan mentari pun, segera tiba usirkan malam

Sisakan terik, yang tanpa ampun gantikan kelam

Isythar di timur sana

Sisakan harap pada Pandora

Pada violet horizon peristiwa

Zenith dan nadir di dalam jiwa

Dan rel kereta ini, akankah terus berada disini?

Berjajar rapi, bagaikan antri tuk jadi saksi?

Setengah kosong kaleng lem di tangan-tangan kecil ini

Siap suguhkan secangkir dingin masa depan sunyi

(Catatan Lanjutan, 6 September 2009)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: