Kowak Malam Abu

Nycticorax nycticorax atau yang lebih sering disapa kowak (koak) ini adalah salah satu burung yang paling sering ditemukan di kampus saya. Tapi itu dulu. Sebelum dahan-dahan Swietenia macrophylla dan Pterocarpus indicus yang menjadi lokasi sarang mereka dipangkas habis.

Dan inilah dia. Sebuah penghormatan kecil bagi burung pemakan ikan yang berjasa besar telah mengajarkan saya banyak hal. Menjadi birdwatcher itu gampang-gampang susah memang. Memulai pembelajaran dengan mengamati burung dengan gerak-gerik mencolok macam yang satu ini, tentu sangat membantu bagi saya yang notabene, benar-benar buta burung sebelumnya.

Black-crowned Night-heron, nama keren dari koak, dapat memiliki panjang tubuh hingga l.k. 60 cm. Tubuh bagian atas biasanya berwarna hijau atau biru kehitaman, sedangkan tubuh bagian bawah berwarna putih (agak kusam). Penampilannya agak pendek, dengan ekor yang (banyak dibilang) tanggung. Mengenai ekornya ini, salah satu rekan saya pernah berkata “Lah, koak teh nya. Buntutna ngarusak flow. Coba mun rada dikumahakeun, kitu. Pan keren”. Anyway, tiap makhluk hidup diciptakan dengan arsitektur yang unik dan menawan bagi setiap spesiesnya, setiap individunya. So, koak tetaplah keren menurut saya. Hehehe ….

Berbeda dengan kebanyakan burung yang berkegiatan secara diurnal, koak yang satu ini adalah salah satu burung nokturnal. Karena itulah, “Malam” menjadi nama tengahnya. Meskipun begitu, banyak juga diantara mereka yang tetap aktif di siang hari. Terutama jika sedang dalam masa meloloh anaknya. Dan seperti kasus koak yang dulu ada di jalan Ganesha, saya lihat mereka cukup menunjukkan sifat diurnal. Subjektif sih. Tapi saya pikir memang seperti itu.

Yang saya lihat dulu adalah, mereka nampak lebih tidak berkegiatan di kala malam. Sedangkan di pagi serta petang hari, mereka biasanya ribut bukan main. Apa karena tidak hidup di habitat yang seharusnya, perilaku mereka jadi berubah ya? Sayang sekarang mau diteliti ulang pun susah. Wong mereka sudah tiada lagi di Jalan Ganesha.

Menurut salah satu literatur yang saya baca, di masa berbiak, koak ini memiliki dua bulu putih hiasan di kepalanya. Bulu itu memanjang hingga mencapai bulu mantelnya. Sedangkan yang masih juvenil memiliki bulu berwarna coklat kusam dengan bintik putih yang mencolok.

Berikut adalah foto koak yang entah dengan cara apa saya sulap menjadi seperti ini. Padahal waktu dulu didownload dari internet, sama sekali tidak seperti ini. Saya lupa situsnya. Tapi seriusan tidak seperti ini sama sekali.

Bisa terlihat bahwa ini koak?

Bisa terlihat bahwa ini koak? Koak terbakar, kali ya ...

Sedangkan yang di bawah ini, adalah foto jenazah koak juvenil yang saya temukan tanggal 4 Februari 2009 yang lalu.

DSC01457

Juvenil 1

Juvenil 2

Juvenil 2

Sungguh malang nasib mereka. Layu sebelum berkembang. Terjatuh sebelum mampu terbang. But fate is not a fake. Pasti ada makna di balik cerita. Misalnya, dengan wafatnya mereka, setidaknya, saya jadi bisa melihat dengan jelas koak juvenil itu macam apa. Meski sudah belepotan lumpur pula.

Hehehe… Bercanda. Sampai jumpa di spesies selanjutnya.

Pustaka:

Holmes, Derek dan Stephen Nash. 1999. Burung-Burung di Jawa dan Bali. Bogor: Puslitbang Biologi.

Serta hasil pengamatan pribadi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: